Selasa, 30 Desember 2014

memang sudah saatnya gerutuku kita pindah ke rumah sendiri mas, mau sampai kapan kita pindah sana pindah sini, bongkar lemari pasang lagi. Akh letih rasanya mas, memang kamu sudah punya tabungan berapa sich untuk duit muka cicilan rumah. Dari dulu bilangnya sabar mulu mau sampai kapan?. Suamiku hanyalah seorang pegawai di sebuah pesantren modern di Bandung, walau penghasilan minim tapi kami bisa sisihkan sedikit untuk nabung jika uangnya sudah lumayan biasanya langsung dibelikan emas untuk disimpan ya..sesekali kalau kondangan baru aku pakai. Menyisihkan uang setiap bulan itu bukan hal mudah karena begitu gaji diterima suamiku harus lebih dulu mengeluarkan untuk beban kredit motor, baru kami bisa masukkan sebagian kedalam celengan. Untuk makan sehari-hari ini tugasku untuk bisa mengirit sampai bulan depan. Tak heran kalau suamiku sering manggut-manggut mengggodaku "gudeg..gudeg" sebagai simbol kok sayurnya itu lagi..itu lagi. Bukannya aku kurang kreatif sebagai seorang istri hihi ngeles, untuk masak makanan yang bervariatif kita kudu keluarkan kocek agak dalam, makanya aku atur strategi gudeg lagi gudeg lagi...yang penting tabungan aman
bulan berganti tahun tapi tabungan kami tak juga terkumpul untuk DP rumah, ya iyalah wong kalau ada kebutuhan tak terduga emasnya tak jual, habis sudah tabungan kami. Sampai akhirnya aku benar-benar kehabisan akal dari mana lagi supaya tabungan kami bisa bertambah. Aku hanyalah guru honorer di sekolah dasar swasta sebenarnya gajiku cukup besar namun karena anak-anakku masih balita sehingga ketika mengajar aku menggunakan jasa pengasuh, belum lagi biaya rasa bersalah maksudnya ketika aku berangkat mengajar anak sulungku seringkali mencegah dengan tatapan manjanya supaya aku tidak berangkat, nah kalau sudah begitu terpaksa dech harus disogok pake uang jajan, biaya rasa bersalah seperti itu tuch yang bikin bengkak.
Suatu hari suamiku pulang agak malam ternyata dia baru saja mengikuti majelis ta'lim di masjid tempat kami pertamakali bertemu dulu. Ada sesuatu yang dibawanya  walau bukan oleh-oleh namun ini lebih dari segalanya, karena yang dibawanya adalah rekaman tausiyah dari ustad Yusuf Mansyur tentang sedekah. Sambil berbinar sorot matanya yang begitu yakin kami berdua mendengarkan bersama rekaman itu di samping kedua anak yang tertidur pulas dalam balutan selimut kain sarung. Dengan seksama kami dengarkan sambil mendalami makna tausiyah tersebut akhirnya suamiku mengajak untuk melaksanakan riyadhoh solat duha bersamaan dengan sedekah. Meski sulit menyisihkan waktu ditengah aktifitas mengajar kucoba untuk menunaikan empat rakaat solat duha, suamiku selalu mengingatkan melalui pesan singkat agar aku tidak meninggalkan ibadah itu, sambil dibarengi sedekah akupun tak sabar menunggu balasan dari Allah. Maklumlah manusia biasa selalu pamrih karena menurut tausiyah tersebut jika kita memberi satu maka akan diganti sepuluh, pikirku ya inilah cara agar tabungan kami cepat terkumpul banyak. Bulan pertama sampai kedelapan kutunggu-tunggu kiriman Allah tapi tak jua datang, barang kali salah kirim kataku dalam hati, namun walau hati ini sedih ku coba selalu berfikir positif bahwa Allah pasti akan membalas sekecil apapun kebaikan hambanya. Karena lelah menunggu transferan dari Allah maka akhirnya kuputuskan untuk tidak lagi berharap, jika ingin sedekah ya sudah sedekah saja tidak perlu banyak berharap karena Allah tahu kebutuhan setiap hambanya.
hari-haripun menjadi lebih ringan karena keinginan sudah diserahkan kepada Allah yang lebih berwenang atas makhluknya. Namun ketika pundak ini telah disandarkan pada Rabb ada saja ujian berat menghampiri ya ..sudahlah lalui saja
lagi-lagi kami harus pindah kontrakan lagi kali ini lebih terasa berat karena harapan punya rumah sendiri ini malah kembali ngontrak, ternyata disinilah kami merasakan kasih Allah yang luas dan tulus, rumah kontrakan yang jauh dari layak menjadi semangat yang lebih membara untuk kami setelah anak kedua terserang virus akibat udara dan air kotor. Suamiku kali ini benar-benar mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk berjuang mengajukan kredit rumah. Diseberang jalan dekat kontrakan ada yang memasang iklan rumah suamikupun tak berfikir panjang, langsung ditancapnya gas laju menuju kantor pemasaran. Dengan percaya diri penuh beserta doa yang dipanjatkan saat solat duha suamiku bertemu marketing rumah tersebut walau tak mempunyai tabungan untuk DPnya. Nyali yang cukup besar kataku sambil kupandangi matanya yang menatap kehidupan yang jauh dan belum bisa diduga. Sebenarnya aku sudah pasrah menjali kehidupan ini jika memang belum saatnya kami diamanahi rumah, seberat apapun rintangan yang kami lalui tetap saja kondisinya masih ngontrak.
Suamiku yang gigih berjuang agar Bank mengabulkan permohonan kreditpun berbuah harapan, ternyata permintaan itu dikabulkan juga. Satu harapan sudah tercapai itupun sudah membuat kami senang, Hanya ada sebutir kerikil yang mengganjal darimana mendapatkan uang untuk DPnya. Bukan mudah mendapat rumah satu bahkan bisa seribu kerikil harus dilalui, selama masih bisa berjalan maka paksakanlah kaki ini berjalan bahkan untuk melompat sekalipun, demi menggapai ridho Allah mengamanahkan sebuah rumah.
dan ye...Alhamdulillah akhirnya terkumpul juga uang selama empat bulan DPpun bisa dibayar lunas, sulit mengerti jalan rencana Allah untuk hambanya yang pasti jika sudah waktunya semua pasti mudah karena Dia tahu betul kebutuhan kita.
Girangnya bukan main kedua jagoanku akhirnya pindah kerumah sendiri, setiap sore kami duduk-duduk didepan teras rumah menikmati secangkir kopi dan teh hangat sambil mendengarkan nyanyian jangkrik yang begitu syahdu okh so sweet......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar